Malaman Tradisi Oboran dari Bumi Sekala Bekhak
“Malaman, Tradisi Oboran dari Bumi Sekala
Bekhak”
“Malaman
buka dibi, gughah nyak mengan pagi, malaman pitu likogh gughah nyak mengan
sawogh” -Malaman
buka dibi bangunin aku makan pagi, malaman tujuh likur bangunin aku makan
sahur
-
![]() |
| anak-anak bermain obor. Sumber Gambar: topsy.one |
Lantunan
pantun diatas kerap kali terdengar saat malam ke-27 dan malam takbir dibulan Ramadhan,
dikedua malam tersebut anak-anak bermain hingga malam, mengeliligi pekon[1] dengan membawa obor. Tak hanya itu, orang tua
juga sibuk menyiapkan tempurung kelapa untuk dibakar, tempurung kelapa ini
disusun sedemikian rupa dengan ditancapkan pada kayu berbentuk panjang dan
ditanam pada tanah. Tradisi ini merupakan perwujudan suka cita anak-anak yang
telah menjalankan ibadah puasa dan wujud keceriaan menjelang Hari Raya. Acapkali
anak-anak akan merengek untuk dibuatkan obor saat Malaman akan dilaksanakan. Ada juga anak-anak yang secara mandiri
mencari bambu sendiri demi ikut serta bermain obor dimalam Malaman. Bahan dasar pembutan obor malaman yaitu, bambu muda dengan
diameter kurang lebih3-5mm, minyak tanah/solar sebagai bahan bakar, serabut
kelapa sebagai sumbu api.
Pertama
yang harus dilakukan untuk membuat obor Malaman
yaitu, membersihkan bambu dari bulu-bulu halus pada permukaan bambu yang dapat
menyebabkan gatal, kemudian bambu dipotong dengan mengikuti ruas bamboo dengan
panjang kurang lebih 1/2 meter. Kemudian siapkan serabut kelapa kering yang
akan digunakan sebagai sumbu untuk meyalakan api, ukuran serabut kelapa harus
disesuaikan dengan ukuran diameter lobang pada bambu. Terakhir yaitu menyiapkan
bahan bakar berupa minyak tanah atau solar. Bambu yang sudah dipotong kemudian
diisi dengan bahan bakar, ujung bambu ditutup dengan serabut kelapa, kemudian
dibakar hingga api meyala.
Pada malam Malaman, kondisi pekon akan dihiasi oleh nyala api yang berbinar kuning
hampir disetiap rumah warga, nyala api tersebut berasal dari hasil bakaran dari tempurung kelapa. Disudut-sudut
jalan pekon akan ditemukan banyak anak-anak bermain sembari meyalakan obor. Aroma
tempurung kelapa yang terbakar, serta lantuntan ayat suci yang terdengar dari Masjid
menambah kental suasana Ramadhan. Riuh dan ramainya suara anak-anak
melambangkan suka cita melaksanakan ibadah puasa dan pertanda bahwa sebentar lagi
perayaan Hari Raya akan dilaksanakan.
Malaman
ini akan dimulai setelah melaksanakan buka puasa, satu persatu anak-anak akan
mulai keluar rumah dengan membawa dan menyalakan obornya masing-masing, dimalam
ini mereka bersuka cita dan bermain bersama berkeliling pekon hingga
menikmati kuliner khas ramadhan. Tak jarang juga, banyak ibu-ibu yang membuka
warung makanan untuk memeriahkan penyelengaaan tradisi Malaman. Malaman terlaksana tanpa adanya komando dari pemerintah
desa ataupun penggiat budaya, tradisi ini masih bersifat murni dan terlaksana
karena kesadaran dari masyarakat pekon. Malaman ini banyak ditemukan di
didaerah Kecamatan Batu Brak dan Balik Bukit, salah satu pekon yang masih
melestarikan malaman yaitu Pekon Kembahang. Penyelenggaraan tradisi ini yaitu
pada malam ke-27 Ramadhan dan Malam Takbir. Jika anak-anak berkeliling pekon dengan
obor, lain halnya dengan orang tua yang biasanya akan berkumpul sembari mengobrol didepan rumah, melihat
hal ini, ternyata malaman juga dapat mempererat tali silaturahmi antar tetangga.
Penyelenggaraan
Malaman pada malam ke-27 Ramadhan
disebut sebagai Malaman Pitu Likogh sedangkan Malaman Buka Dibi dilaksanakan pada
saat malam takbir. Pada Malaman anak-anak dibebaskan untuk
bermain diluar rumah tentunya dengan pengawasan orang tua. Alunan pantun “Malaman buka dibi, gughah nyak mengan pagi,
malaman pitu likogh gughah nyak mengan sawogh” biasanya akan dilantunkan
sembari berkeliling pekon dan dinyanyikan secara bersama-sama. Dinginnya malam
di Lampung Barat tidak menyulutkan semangat anak-anak untuk bermain obor. Kegiatan
memiliki makna yang sangat baik jika dilihat dari kondisi anak-anak jaman
sekarang. Jika biasanya anak-anak akan memilih berdiam diri dirumah dengan
menonton TV atau bermain Gadget maka
dimalam Malaman mereka akan berinteraksi dengan sesama temannya.
Selain bermain obor ada beberapa permainan
juga yang sering dimainkan saat bulan Ramadhan, salah satunya yaitu Bedil. Bedil yaitu meriam mambu yang dibunyikan dengan cara
ditiup dan dibakar, namun kini keberadaan Bedil
sudah jarang ditemukan, anak-anak lebih tertarik untuk menggunak petasan
yang lebih simple. Selain dapat
menggeser kebudayaan tradisonal petasan juga sangat membahayakan bagi anak-anak
jika digunakan tanpa pengawasan orang tua.
Banyak manfaat yang dapat
diambil dari tradisi Malaman,
beberapa diantaranya yaitu,
1. Melestarikan kebudayaan dan
kesenian lokal, dengan hal ini anak-anak akan mengenal
kebudayan asli mereka sehingga akan lebih tertanam cinta terhadap kesenian
lokal. Zaman ini dapat kita lihat kondisi pada masyarakat, anak-anak lebih condong
ke kebudayaan barat dan mengganggap bahwa seni tradisonal itu kuno dan
ketinggalan zaman.
2. Memberikan ruang interaksi sosial
antar anak-anak, pada malam Malaman anak-anak akan
bermain bersama sehingga interaksi antar teman akan lebih dekat. Mirisnya
dengan kehadiran Gedget tanpa adanya
pembatasan dan control dari orang tua, menjadikan anak-anak lebih individualis.
Jika biasanya anak-anak lebih memilih berdiam diri dirumah, maka pada malam Malaman mereka akan keluar untuk bermain
bersama dengan teman-temannya.
3. Mencintai permainan tradisonal,
sekarang kita hidup diera globalisasi, mau tak mau, suka tidak suka, segala sesuatu
baik itu kebudayaan, fasilitas dan informasi akan masuk dengan cepat. Beberapa contoh
kecilnya yaitu dengan adanya Petasan Kembang Api, banyak sekali akibat negative
yang dapat ditimbulkan dari petasan. Di Indonesia kasus kecelakaan dan
kebakaran yang diakibatkan oleh petasan sering kali terjadi saat Bulan
Ramadhan.
4. Menarik wisatawan lokal
Tak dipungkiri, zaman sekarang
promosi pariwisata dilakukan secara gencar melalui akun-akun media sosial,
banyak juga diantara penikmat wisata yang menyukai wisata lokal dan
tradisional. Dalam hal ini bukan bermaksud untuk menjual kebudayaan, namun
lenih memperkenalkan kebudayaan dan tradisi Lampung Barat kepada seluruh dunia.
Mari kita contoh dari Tradisi Sedekah Bumi di Jawa Tengah atau Tradisi Sarang
Taun di Jawa Barat. Mereke melakukan komudikasi Budaya sehingga budaya mereka
lebih dikenal tanpa merubah makna pelaksanaannya.
Manfaat
diatas tidak hanya berlaku untuk tradisi Malaman, namun juga untuk tradisi dan
kebudayaan lainnya. Tidak ada salahnya kita ikut serta dalam melestraikan kesenian
dan tradisi selama hal tersebut memiliki dampak yang positif.terlebih lagi
Malaman adalah tradisi yang sudah lama dilakukan dibeberapa daerah di Lampung
Barat. Kelestraian tradisi Malaman
kedepannya adalah tanggung jawab kita bersama, bagaimana kita dapat tetap
mempertahankan kebudayaan dan tradisi yang sudah sejak lama diciptakan oleh
nenek moyang. Memberikan pengetahuan akan pentingnya menjaga tradisi tidak harus
dilakukan oleh guru disekolah, siapapun memiliki tanggung jawab untuk
menyampaikannya. Ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan
adalah salah satu wujud dalam melestarikan kebudayaan. Jangan sampai dimasa
depan Malaman hanya akan menjadi
sebuah cerita betapa indahnya malam Ramadhan dipekon-pekon Kabupaten Lampung Barat
dimasa lalu.

Komentar
Posting Komentar